Hubungi Kami
Tips dan Edukasi

Kohe Domba Dapat Bermanfaat untuk Pupuk Tanaman

Oleh Nama Penulis - 21 September 2026
22 kali dilihat

Kotoran hewan atau kohe sering kali dianggap sebagai limbah dari aktivitas peternakan. Padahal, jika dikelola dengan tepat, kotoran ternak dapat diolah menjadi bahan yang memiliki nilai guna, salah satunya sebagai pupuk organik. Pemanfaatan ini tidak hanya membantu mengurangi limbah peternakan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menciptakan sistem peternakan yang lebih berkelanjutan.

Salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan adalah kotoran domba. Kohe domba memiliki kandungan bahan organik dan unsur hara yang dapat mendukung perbaikan kondisi tanah. Penelitian mengenai pengomposan kotoran domba menunjukkan bahwa proses pengomposan melibatkan aktivitas berbagai mikroorganisme yang berperan dalam menguraikan bahan organik dan mengubahnya menjadi bentuk yang lebih stabil.

Melihat potensi tersebut, nusaQu melalui Nusa Waste memanfaatkan kotoran domba sebagai bahan baku untuk menghasilkan pupuk organik. Pengolahan dilakukan melalui proses fermentasi dengan bantuan mikroorganisme sebelum produk memasuki tahap pengayakan dan pengemasan.

Dari Kotoran Domba Menjadi Pupuk Organik

Pengolahan kohe domba menjadi pupuk organik pada dasarnya merupakan proses mengubah bahan organik yang masih segar menjadi material yang lebih stabil dan siap dimanfaatkan. Proses ini tidak hanya bergantung pada waktu, tetapi juga pada aktivitas mikroorganisme selama fermentasi.

Di Nusa Waste, proses dimulai dari kotoran domba segar yang dikumpulkan sebagai bahan baku. Kotoran tersebut kemudian difermentasi menggunakan campuran mikroorganisme yang telah dikembangkan untuk membantu proses penguraian bahan organik.

Selama proses fermentasi, bahan ditutup dan dibiarkan selama kurang lebih dua minggu. Penutupan dilakukan untuk membantu menjaga kondisi suhu dan kelembapan selama proses berlangsung. Dalam proses pengomposan, kondisi lingkungan seperti kelembapan, suhu, ketersediaan oksigen, serta aktivitas mikroorganisme menjadi faktor yang berpengaruh terhadap proses penguraian bahan organik. Penelitian pada pengomposan kotoran domba juga menunjukkan bahwa perubahan kelembapan dapat memengaruhi transformasi karbon dan nitrogen serta aktivitas mikroorganisme selama proses pengomposan.

Mikroorganisme berperan sebagai pengurai bahan organik. Aktivitas mikroba membantu memecah senyawa organik yang lebih kompleks menjadi material yang lebih sederhana. Dengan demikian, proses fermentasi menjadi tahap penting sebelum kohe domba digunakan sebagai pupuk.

Tahap Pengayakan hingga Siap Digunakan

Setelah melalui proses fermentasi kurang lebih dua minggu, bahan kemudian memasuki tahap pengolahan berikutnya, yaitu pengayakan. Bahan yang telah difermentasi dimasukkan ke dalam wadah dan diayak secara manual untuk memisahkan bagian yang masih berukuran lebih besar.

Kotoran domba memiliki karakteristik tekstur yang relatif lebih halus dibandingkan beberapa jenis bahan organik lainnya. Karakter tersebut membantu proses pengayakan sehingga material yang dihasilkan dapat menjadi lebih seragam.

Mengapa Kohe Domba Perlu Diolah?

Pemanfaatan kohe secara langsung tanpa pengolahan perlu mempertimbangkan tingkat kematangan bahan dan kondisi penggunaannya. Melalui proses fermentasi atau pengomposan, bahan organik mengalami perubahan akibat aktivitas mikroorganisme sehingga menjadi lebih stabil.

Selain menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik, pengolahan ini juga memberikan nilai tambah terhadap limbah peternakan. Kotoran yang sebelumnya hanya menjadi hasil samping kegiatan pemeliharaan ternak dapat masuk kembali ke dalam siklus pertanian sebagai sumber bahan organik.

Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan kotoran domba dan pupuk organik dapat berkontribusi terhadap peningkatan bahan organik serta ketersediaan unsur hara tanah dalam kondisi tertentu.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan limbah peternakan tidak berhenti pada persoalan mengurangi limbah. Lebih jauh, pengolahan dapat menjadi bagian dari konsep ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan kembali hasil samping peternakan menjadi produk yang memiliki fungsi dan nilai ekonomi.

Kohe domba bukan sekadar limbah peternakan. Dengan pengolahan yang tepat, bahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik. Di Nusa Waste, proses dimulai dari pengumpulan kotoran domba segar, dilanjutkan dengan fermentasi menggunakan mikroorganisme selama kurang lebih dua minggu dalam kondisi tertutup, kemudian dilakukan pengayakan secara manual hingga produk siap dikemas.

Proses fermentasi menjadi tahap penting karena aktivitas mikroorganisme membantu menguraikan bahan organik dan mendukung proses pematangan. Setelah melalui tahapan tersebut, kohe domba dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari produk pupuk organik.

Pemanfaatan kohe domba menjadi pupuk menunjukkan bahwa limbah peternakan dapat memiliki nilai guna apabila dikelola secara tepat. Inilah salah satu bentuk pemanfaatan hasil samping peternakan yang dikembangkan melalui Nusa Waste.

Ingin mengetahui lebih lanjut tentang produk dan pengolahan nusa waste? Kunjungi nusaqu.id.