Hubungi Kami
Tips dan Edukasi

Fakta Gudik atau Scabies Kambing Domba, Peternak Wajib Tahu!

Oleh Nama Penulis - 10 October 2026
25 kali dilihat

Masalah gudik atau scabies pada kambing dan domba sering kali dianggap sebagai gangguan kulit biasa. Padahal, jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit ini dapat menyebar ke ternak lain, mengganggu kenyamanan hewan, serta menurunkan produktivitas dan nilai jual ternak. Tidak sedikit peternak yang merasa sudah rutin melakukan pengobatan, tetapi gudik kembali muncul karena penanganan belum menyeluruh atau terjadi penularan ulang.

Scabies merupakan infestasi tungau parasit, salah satunya Sarcoptes scabiei, yang menggali lapisan kulit dan memicu rasa gatal hebat, peradangan, serta pembentukan keropeng. Untuk mencegah kerugian yang lebih besar, peternak perlu memahami fakta penting mengenai penyakit ini, faktor yang memengaruhi penyebarannya, dan prinsip penanganan yang tepat.

1. Gudik Dapat Menular ke Manusia

Scabies pada kambing dan domba bersifat zoonosis, artinya dapat menimbulkan gangguan pada manusia. Kontak langsung dengan ternak yang terinfestasi dapat menyebabkan gatal dan ruam kulit pada orang yang terpapar. Tungau dari hewan umumnya tidak beradaptasi sebaik tungau scabies manusia, sehingga gejalanya dapat bersifat sementara. Meski demikian, peternak tetap perlu menggunakan sarung tangan saat menangani ternak yang terinfeksi dan menjaga kebersihan diri setelah kontak.

2. Dampaknya Bukan Sekadar Kerusakan Kulit

Rasa gatal membuat ternak terus menggaruk, menggosokkan tubuh ke dinding kandang, dan kehilangan waktu untuk makan maupun beristirahat. Pada kasus berat, kulit menebal, bulu atau wol rontok, dan luka dapat mengalami infeksi sekunder. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan pertambahan bobot badan serta meningkatkan biaya pengobatan. Akibatnya, peternak menghadapi risiko kerugian ekonomi dan penurunan kualitas ternak.

3. Kambing dan Domba Sama-Sama Berisiko

Anggapan bahwa scabies hanya menyerang kambing atau lebih sering terjadi pada kambing tidak dapat digeneralisasi. Kambing maupun domba dapat terinfestasi tungau penyebab kudis, dengan jenis tungau dan pola lesi yang berbeda. Pada scabies sarcoptic, lesi dapat bermula di bagian kepala dan wajah, kemudian meluas ke leher serta bagian tubuh lainnya. Karena itu, pemeriksaan perlu dilakukan pada kedua jenis ternak, terutama jika muncul gatal berlebihan, keropeng, atau kerontokan bulu yang tidak biasa.

4. Kondisi Kandang dan Nutrisi Perlu Diperhatikan

Kebersihan kandang, kepadatan ternak, kontak dengan hewan terinfeksi, dan penggunaan peralatan bersama dapat memengaruhi penyebaran tungau. Kelembapan tinggi juga dapat memperburuk kondisi lingkungan kandang, sedangkan pakan yang tidak memenuhi kebutuhan nutrisi dapat menghambat pemulihan ternak. Namun, scabies terutama terjadi akibat infestasi tungau, bukan semata-mata karena musim hujan atau kekurangan nutrisi. Oleh sebab itu, perbaikan pakan dan sanitasi harus disertai pengendalian parasit yang tepat.

5. Benarkah Gudik Bisa Menyebabkan Kematian?

Pada kasus berat yang tidak tertangani, scabies dapat menyebabkan penurunan kondisi tubuh, luka luas, dan infeksi sekunder. Ternak yang mengalami gangguan makan berkepanjangan berisiko mengalami kelemahan dan penurunan kondisi fisik yang serius. Risiko ini perlu mendapat perhatian khusus pada anak kambing atau domba serta ternak yang sudah lemah. Kematian bukanlah akibat yang pasti, tetapi komplikasi berat dapat mengancam keselamatan ternak.

Mengapa Gudik Bisa Kambuh Setelah Pengobatan?

Pengobatan yang tidak sesuai dengan jenis tungau, penggunaan produk yang kurang tepat, dosis yang keliru, atau tidak ditanganinya ternak kontak dapat menyebabkan infestasi bertahan atau terjadi penularan ulang. Beberapa terapi topikal memang efektif jika digunakan sesuai petunjuk, tetapi hasilnya bergantung pada jenis obat, cara aplikasi, dan kebutuhan pengulangan pengobatan.

Karena itu, mandi belerang atau penggunaan obat luar tidak bisa langsung dianggap gagal maupun selalu berhasil. Jika gudik terus berulang, peternak sebaiknya meminta pemeriksaan dokter hewan untuk memastikan diagnosis dan menyusun pengobatan yang sesuai.

Bagaimana Menangani Scabies dengan Tepat?

Penanganan ideal tidak hanya berfokus pada kulit yang terlihat berkeropeng, tetapi juga pada pengendalian tungau dan pencegahan penularan ulang. Langkah yang dapat dilakukan meliputi:

  • Pemeriksaan dan pemilihan obat: dokter hewan menentukan terapi berdasarkan kondisi ternak, jenis infestasi, serta petunjuk penggunaan obat.
  • Penanganan ternak kontak: ternak yang terinfeksi perlu dipisahkan sementara dan ternak yang berkontak dengannya diperiksa untuk mengurangi risiko penyebaran.
  • Perbaikan sanitasi: bersihkan kandang dan peralatan secara teratur serta hindari penggunaan alat perawatan secara bergantian tanpa dibersihkan.
  • Perhatian khusus pada induk bunting: pilihan obat dan metode penanganan harus mempertimbangkan usia kebuntingan, kondisi tubuh, dan keamanan produk. Hindari tindakan kasar yang dapat memicu stres, serta jangan menggunakan obat tanpa arahan dokter hewan.

Perlu dipahami bahwa metode tanpa suntikan tidak otomatis lebih aman, dan obat yang bekerja secara sistemik tidak selalu cocok untuk semua ternak. Keamanan pada induk bunting harus dibuktikan berdasarkan obat dan petunjuk penggunaannya, bukan hanya berdasarkan cara pemberiannya.

Gudik atau scabies pada kambing dan domba merupakan masalah kesehatan yang dapat berdampak pada kesejahteraan ternak, produktivitas, dan keuntungan peternak. Penularan ke manusia, gangguan makan, komplikasi kulit, serta risiko kekambuhan menjadi alasan mengapa penyakit ini tidak boleh dianggap sebagai gatal biasa.

Kunci penanganannya adalah diagnosis yang tepat, penggunaan obat sesuai arahan dokter hewan, perbaikan sanitasi, dan pengendalian penularan di kandang. Dengan langkah yang menyeluruh, peternak dapat mengurangi risiko kekambuhan sekaligus menjaga kesehatan dan produktivitas ternak.

Sobat Ternak, jangan tunggu sampai gudik menyebar dan kondisi ternak semakin menurun. Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai nusaQu dan edukasi seputar pengelolaan ternak, kunjungi nusaqu.id.